Maota "Lamak" dengan Mantan Sekwan, dari UMKM ke Pupuk Organik
HORIZONE - Pagi mulai menjemput siang. Seperti biasa, ruangan Kasubag Protokoler dan Publikasi Sekretarian DPRD Kabupaten Solok tempat mangkalnya para awak media, tetap mengalir dengan iramanya, bercerita dan bercengkrama.
Justru yang tidak biasa, kehadiran mantan Sekwan yang sekarang dipakai keilmuannya sebagai staf ahli DPRD, Syamsurizal, ikut nimbrung maota-ota dengan sejumlah wartawan.
Seperti tidak biasa juga, Uncu, begitu staf ahli DPRD itu akrab dipanggil, membuka "ota"nya tentang bagaimana meningkatkan gairah pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Solok.
Bagi wartawan, pembicaraan yang awalnya sangat sederhana, mendadak menjadi berharga. Apalagi ketika dikait-kaitkan dengan arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Solok yang di ekspresikan dalam slogan: Mambangkik Batang Tarandam.
Menurut Uncu, membangkitkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ini, harus dengan azas gotong rotong dan kebersamaan.
Dirinya menyampaikan itu bukan tanpa argumen. Ia mencontohkan, barang barang atau produk produk yang di buat oleh UMKM, di beli oleh pemerintah daerah dan di himpun pada suatu tempat, seperti Gedung Pondok Promosi yang di berada Selayo.
Produk produk tersebut, di beli oleh pegawai melalui sebuah voucher. Voucher ini dicetak dengan nilai nominal bervariasi. Ada voucher Rp 50.000, Rp 100.000 dan Rp 150.000.
" Dengan sistim voucher ini, terjadilah transaksi penukaran voucher dengan beberapa macam produk yang sesuai dengan berapa nominal voucher yang dimiliki,”uncu menerangkan.
Pola ini menurut Uncu, dampaknya seperti idiom "sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Disamping sebagai usaha mengembangkan dan menggairahkan produk UMKM, Pemerintah Kabupaten Solok sekaligus memanfaatkan gedung gerai promosi di Selayo yang sampai hari ini belum terjadi aktivitas apa-apa.
Sampai disitu, ternyata belum habis inspirasi Uncu Syamsurizal memandang persoalan kekinian yang dihadapi masyarakat ditingkat petani. Pembicaraan sederhana yang tiba-tiba cukup berbobot itu, bahkan semakin memantik penasaran wartawan yang kesehariannya memang segala ingin tahu.
Ini masalah kelangkaan pupuk bersubsidi, yang kerap dikeluhkan petani
di kabupaten solok. Karena mungkin hanya sebatas ota-ota, Uncu Syamsurizal dengan enteng berpendapat, pupuk langka bisa dicarikan alternatif lain.
Bahkan sebagai solusi, menurut mantan Asisten II yang sudah pensiun itu, apa salahnya kalau petani beralih saja menggunakan pupuk alamiah.
" Kab ada tuh di Youtube, pupuk organik yang di produksi oleh PT. Best Bandung. Itu bisa kita implementasikan penggunaannya di Kabupaten Solok," ujarnya.
Bagi para petani di kabupaten Solok sudah teruji memakai produk organik tersebut.
" Karena itu, mulailah beralih memakai pupuk dengan bahan kimia ke pupuk organik, “saran Uncu sambil berlalu meninggalkan para wartawan dengan asumsi dan pikirannya sendiri-sendiri. (Ismardi).
What's Your Reaction?



