Gubernur Mahyeldi: Rehabilitasi Lahan Pertanian Rusak Ringan dan Sedang di Sumbar Tuntas 100 Persen

HORIZONE - Gubernur Mahyeldi Ansharullah menyatakan rehabilitasi lahan pertanian rusak ringan dan sedang akibat bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat telah selesai 100 persen. Pemerintah daerah kini mulai fokus pada penanganan lahan rusak berat dan sawah yang hilang akibat banjir serta longsor.

Gubernur Mahyeldi: Rehabilitasi Lahan Pertanian Rusak Ringan dan Sedang di Sumbar Tuntas 100 Persen

Pernyataan tersebut disampaikan Mahyeldi saat mengikuti kegiatan tanam padi serentak di lahan sawah terdampak bencana di Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Rabu (13/5/2026).

“Alhamdulillah, sesuai arahan Pak Menteri, proses rehabilitasi lahan terdampak bencana kategori rusak ringan dan sedang berhasil kita percepat dan tuntaskan. Hari ini adalah penanaman terakhir, artinya progres kita sudah 100 persen,” ujar Mahyeldi.

Menurut Mahyeldi, percepatan rehabilitasi lahan pertanian tersebut tidak terlepas dari dukungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Balai Wilayah Sungai Sumatera V, serta pemerintah kabupaten dan kota terdampak bencana. Total anggaran rehabilitasi yang dikucurkan Kementerian Pertanian mencapai Rp32,9 miliar.

Ia menegaskan, pemerintah daerah kini tengah mengoordinasikan langkah lanjutan untuk penanganan lahan kategori rusak berat dan sawah hilang yang memerlukan keterlibatan lintas kementerian, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.

“Sebagian lahan yang hilang kini berubah menjadi aliran sungai, ada juga yang tergerus longsor. Karena itu penanganannya tidak bisa hanya oleh Kementerian Pertanian, tetapi perlu kolaborasi lintas kementerian,” katanya.

Mahyeldi mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 7.000 hektare lahan terdampak berat di Sumbar, termasuk lebih dari 4.000 hektare sawah yang hilang akibat bencana hidrometeorologi.

Selain fokus rehabilitasi, Mahyeldi juga mengingatkan ancaman musim kering dan dampak El Nino yang diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga Juli 2026. Menurutnya, percepatan masa tanam menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan daerah.

“Kita diminta segera melakukan pemetaan dan langkah antisipasi menghadapi musim kering. Penanaman harus dipercepat supaya panen tidak terganggu dan stok pangan tetap aman,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh data kerusakan dan rencana rehabilitasi pascabencana telah dimasukkan ke dalam dokumen R3P atau Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana yang telah diserahkan kepada pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Mahyeldi juga mengingatkan potensi banjir dan longsor masih mengancam sejumlah wilayah di Sumbar karena curah hujan yang masih tinggi.

“Di Agam kemarin masih terjadi longsor, jalan putus dan area pertanian terganggu. Karena itu kita harus bergerak cepat sekaligus meminimalisir risiko bencana berikutnya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian RI, Tedy Dirhamsyah, mengapresiasi kecepatan Sumbar dalam memulihkan lahan pertanian terdampak bencana. Ia menyebut Sumbar menjadi provinsi dengan progres rehabilitasi terbaik dibanding daerah terdampak lainnya seperti Aceh dan Sumatera Utara.

“Total lahan rusak ringan dan sedang di Sumbar mencapai 3.902 hektare dan progresnya luar biasa. Secara nasional rata-rata baru sekitar 14 persen, tetapi Sumbar sudah memenuhi target Pak Menteri. Ini juara satu,” kata Tedy.

Ia menambahkan, Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah program antisipasi kekeringan, mulai dari irigasi perpompaan hingga pembangunan sumur dalam untuk menghadapi ancaman El Nino.

Di sisi lain, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, mengungkapkan bencana banjir dan longsor memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di daerahnya.

Menurutnya, total lahan sawah terdampak di Padang Pariaman mencapai 1.263,4 hektare, terdiri dari 446 hektare rusak ringan, 238,25 hektare rusak sedang, 450,7 hektare rusak berat, dan 100,5 hektare sawah hilang akibat terbawa arus sungai.

Selain itu, lahan jagung terdampak mencapai 570,35 hektare, dengan rincian 382,6 hektare rusak ringan, 71 hektare rusak sedang, 112,5 hektare rusak berat, dan 4,3 hektare lahan hilang.

“Untuk sawah rusak ringan seluruhnya sudah tertangani 100 persen, sedangkan sawah rusak berat dan hilang hingga kini belum ada alokasi bantuan dari Kementerian Pertanian. Begitu juga untuk lahan jagung terdampak, kita berharap bantuan segera terealisasi,” ujar John Kenedy Azis.

red-ril

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow