Tikungan Vasko STA 61 Surian Rawan Laka. Menunggu Solusi Keselamatan Lalin. 

HORIZONE - Satu titik jalan nasional di Nagari Surian, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok. STA 61 ruas jalan Lubuk Selasih - Surian menuju Kabupaten Solok Selatan jadi populer dengan sebutan tingkungan Vasko. 

Tikungan Vasko STA 61 Surian Rawan Laka. Menunggu Solusi Keselamatan Lalin. 

Kecelakaan tunggal Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, Minggu (17/05/2026) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB menjadi sorotan publik. Bagi warga sekitar, peristiwa itu bukan kejadian pertama. Bahkan pada hari telah terjadi  tiga kali insiden kecelakaan. 

Jalan menikung tajam ke kanan dari arah Solok Selatan itu selama ini dikenal rawan. Kondisi semakin berisiko karena sebagian badan jalan menyempit akibat belum tuntasnya pembebasan lahan warga untuk pelebaran jalur. Sementara di sisi lain, area bekas jalur lama kini menjadi lokasi penumpukan material bangunan milik warga. 

Peristiwa menimpa politisi muda tersebut akhirnya menjadi momentum terbukanya kembali pembicaraan panjang yang selama ini berjalan di tempat. Atas permintaan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Pemerintah Kabupaten Solok diminta turun langsung membantu penyelesaian akar persoalan di lapangan. 

Wakil Bupati Solok H. Candra, S.H.I, Selasa (19/05/2026) turun langsung meninjau lokasi bersama sejumlah OPD terkait. Turut hadir mendampingi antara lain Kepala Dinas PUPR Kabupaten Solok, Kadishub, Kasatpol PP Damkar, Camat Pantai Cermin, Wali Nagari Surian dan Lolo, serta tokoh masyarakat setempat. 

Berbeda dari penanganan sebelumnya yang lebih banyak fokus pada aspek teknis jalan, kunjungan kali ini diarahkan sebagai upaya mediasi langsung dengan pemilik lahan yang selama ini belum mencapai titik kesepakatan pembebasan. 

Sebelum berada pada titik lokasi dimaksud, Wabup Candra juga melakukan koordinasi melalui sambungan video call dengan Wakil Gubernur Vasko dan Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar.

 “Persoalan ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Keselamatan masyarakat jauh lebih penting. Pemerintah daerah harus hadir untuk mencari jalan tengah terbaik,” ujar Candra di sela peninjauan. 

Pemkab Solok sudah mengagendakan pertemuan lanjutan untuk mengkaji solusi cepat dan terukur, termasuk membahas skema ganti rugi lahan, kemungkinan ganti luas lahan, hingga penyelesaian berdasarkan NJOP dan ketentuan aturan yang berlaku apabila tidak ditemukan titik temu. 

Rey Fraja Novandro, PPK 2.5 Jalan Lubuk Selasih-Surian BPJN Sumbar menjelaskan, secara teknis lokasi tersebut memang membutuhkan penanganan cepat. Ia menyebut material bangunan di pinggir dan sebagian badan jalan minta dibersihkan terlebih dahulu agar tidak membahayakan pengendara. 

Setelah itu lokasi STA 61 ini bisa dilakukan pekerjaan perbaikan dan pelebaran jalan supaya lebih aman bagi pengguna jalan, katanya. 

Menurut Rey, kebutuhan pembebasan lahan di lokasi tersebut diperkirakan sekitar 133 meter persegi. 

“Untuk penyelesaiannya membutuhkan dukungan pembebasan lahan, apakah nanti melalui Pemkab Solok atau Pemprov Sumbar,” ujarnya. 

Pemilik lahan, Muzardi alias Det, membantah anggapan keluarganya tidak peduli terhadap keselamatan pengguna jalan. Menurutnya, sebagian jalan nasional yang saat ini digunakan masyarakat di depan lokasi tersebut justru berasal dari tanah keluarganya yang diserahkan secara cuma-cuma. 

“Ini soal keadilan. Ada dugaan nilai ganti lahan kami sangat jauh dibanding yang diterima warga lain di sekitar sini,” katanya. 

Ia juga mengaku keluarganya pernah mengalami tekanan dan intimidasi dari pihak tertentu, meski enggan menyampaikan secara terbuka kepada publik. 

Namun demikian, Muzardi memastikan keluarganya tidak menutup pintu penyelesaian. “Kalau memang ada kesepakatan yang adil, sebenarnya sekarang juga kami siap memberikan izin membuka pagar beton itu dan menyerahkan lahan tersebut,” ujarnya. 

Muzardi bahkan sangat mengapresiasi langkah Wakil Bupati Solok yang datang langsung bersama tim mendengar penjelasan keluarga mereka. “Selama ini belum pernah ada pimpinan daerah yang datang mendengar langsung apa yang kami rasakan dan kami alami,” katanya. 

Kasus di Surian ini memperlihatkan satu hal penting bahwa banyak persoalan infrastruktur tidak semata-mata soal proyek fisik, tetapi juga menyangkut komunikasi, rasa keadilan, dan keberanian membuka ruang dialog. 

Kecelakaan yang dialami Wagub Vasko mungkin menjadi perhatian besar karena melibatkan pejabat publik. Namun bagi masyarakat sekitar, harapan terbesar sesungguhnya sederhana,  jangan tunggu korban berikutnya untuk menyelesaikan masalah lama ini. Sekarang tikungan yang disebut warga sekitar sebagai "Tikungan Vasko" itu sedang menanti penyelesaian konkret.

( Aznul Hakim/R** ) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow