SIJUNDAI: Tragedi ( 6 )
Oleh: Agus Sutawijaya
Di luar hujan mulai reda, menyisakan rintik yang perlahan menjauh dihalau angin. Suasana kelam, karena bulan baru akan purnama dua pekan lagi. Di rumah-rumah warga, hanya satu atau dua saja yang masih tampak bercahaya. Penduduk kampung biasanya memadamkan lampu sebelum tidur, dan hanya menyisakan sebuah "Palito" atau lampu minyak sebagai penerang di tengah rumah. Dari jauh cahayanya yang menerobos dinding papan nampak berkelap-kelip, bias nyala sumbu yang bergoyang tertiup angin.
Waktu hampir pukul tiga dini hari. Sebagian penduduk yang kuat imannya terjaga, melawan kantuk dan hawa dingin untuk menuju "Perigi" atau sumur yang ada di belakang rumah panggung mereka. Berwudlu, lalu tenggelam dalam zikir dan doa di sepertiga malam. Waktu di mana para malaikat turun ke langit dunia untuk menjemput doa-doa dari hamba yang bertaqwa. Mengabulkan pinta dan memberikan ampunan bagi para pendosa yang bertaubat.
Di dalam bilik Imah tertidur lelap. Lalu bayangan hitam tampak menyelinap dari celah ventilasi jendela kamar. Bau amis menyeruak di seluruh ruangan kamar. Bayangan hitam itu menggumpal, berputar mengitati bilik berukuran tiga kali tiga meter itu. Lalu tiba-tiba saja bayangan itu memghisap seluruh cahaya yang menerobos dari celah dinding papan dan menebarkan kegelapan yang pekat di seisi kamar. Hitam.
Imah terjaga. Nafasnya sesak, bau amis yang menyeruak membuat perutnya mual. Ia menatap sekeliling, tak ada satu pun yang nampak, yang ada hanya gelap. Ia tak mengenali ruangan ini. Ia tak tahu sedang berada di mana, rasanya seperti di dunia lain. Yang ada hanya gelap, bau dan pengap. Imah mengangkat tangannya. Ditatapnya kedua tangan itu, tapi yak ada apa-apa. Ia tak bisa melihat tangannya sendiri.
"Mak..!!!" Jeritnya.
Tak ada jawaban, pekiknya menggema di seantero bilik. Memantul-mantul dan kembali hilang ditelan senyap.
"Abah.. Mak..!!" Jeritnya diiring isaknya yang tertahan. Tubuhnya lunglai tak bertulang. Kelelahan seharian menghadapi mahluk halus yang membuatnya merayap-rayap memanjat dinding sekolah siang tadi membuat seluruh tubuhnya remuk redam. Kkni, sesuatu yang menakutkan telah pula menyelimuti bilik tempatnya beristirahat.
"Imaaaaah..." tiba-tiba entah dari mana ia mendengar namanya disebut. Suaranya berat, serak dan bergetar. Demi mendengar suara yang sangat mengerikan itu, seluruh bulu roma imah berdiri. Otot pipinya menegang. Ia merasakan pupil matanya menyempit, meski tiada apa pun yang bisa dilihatnya. Otaknya memberikan respon yang luar biasa atas rasa takutnya.
"Imaaaah..." suara itu kembali menggema.
Tak lama kemudia dalam gelap yang sangat pekat Imah menyaksikan bayangan gelap itu menjelma di hadapannya. Sosok hitam legam dipenuhi bulu-bulu kasar. Matanya merah menyala, bagai kobaran api yang membara. Hidungnya tak simetris, persis banguna yang dibuat oleh tukang asal-asalan yang tak pernah belajar geometri. Tdronggok semaunya pada wajah penuh luka yang mengeluarkan bau amis menyegat. Lidah mahluk itu panjang, bercabang dua, setiap kali mulutnya terbuka, air liur berbau busuk berhamburan meleleh dari bibirnya yang hitam dan tebal. Giginya.... aih gigi itu sangat mengerikan. Jarang-jarang dan runcing. Barisan gigi jelek iti dikawal oleh empat taring panjang, tajam laksana belati. Dua di atas dan dua di bawah.
Imah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Namun bayangan mahluk neraka jahannam itu masih saja ada. Dipalingkan wajahnya ke kanan, mahluk itu ada di sana. Menoleh ia ke kiri, mahluk itu juga ada di sana.
"Maaaak..!!" Imah menjerit sekerasnya, lalu terdiam ketika telapak tangan kasar dengan kuku hitam dan panjang itu mencekik leher jenjangnya. Ia gelagapan. Nafasnya tersengal. Namun mahluk itu tetap mencekiknya.
Mahluk durjana itu mendekap tubuh gadis kecil tak berdaya itu. Tangannya yang kasar menggerayangi setiap inchi bagian tubuh Imah. Ia berontak sekuat tenaga, melindungi bagian paling berharga kewanitaannya. Mahluk biadab itu semakin menggila. Imah bertahan sekuat tenaga. Bertaha sekuatnya dari ulah durjana mahluk neraka ini, yang ingin merenggut kehormatannya.
Tiba-tiba hawa dingin menguasai bilik papan itu. Mahluk yang tadi menghimpitnya perlagan berubah menjadi hawa dingin yang melayang, terbang mengelilingi bilik sederhana itu. Lalu perlahan menyelinap melalui ubun-ubun Imah, menyebar menguasai seluruh tubuh gadis yang baru beranjak remaja itu.
Imas merasa tubuhnya membeku. Matanya melotot. Ada kekuatan besar yang tiba-tiba saja menguasai raga dan jiwanya.
Di luar kuasanya, imah bangkit. Ia berjalan menuju dapu, mengambil parang panjang milik abahnya yang terselip di dinding, lalu kembali ke ruang tengah. Lalu mahluk itu memaksanya berjalan mrmasuki bilik Mak dan Abahnya.
"Imah.. kenapa nak?" Pekik Mak demi melihat imah berdiri di pinggir ranjang mereka.
"Enyah kau..." sergah Imah kepada Maknya seraya mendorong perempuan setengah baya itu hingga jatuh terjengkang ke lantai.
Pak Birin yang tersentak dari tidurnya tak bisa berbuat banyak ketika parang panjang yang naru saja diasahnya tadi sore tiba-tiba ditebaskan oleh anak gadisnya tepat membelah keningnya.
"Mampuih.... mampuih.... mampuih..." desis imah sambil terus mengayunkan parang kepada lelaki yang tak lagi berdaya itu.
Darah bersimbah. Bau amis menyeruak. Kengerian menguasai seluruh rumah itu.
"Imah..." ratap Mak Tuo.
"Tuan..." katanya lagi memanggil suaminya yang tergeletak bersimbah darah di atas peraduannya.
"Tolong.. tolong" pekik Mak Tuo sekuat tenaga.
Imah beranjak keluar, tubuhnya penuh percikan darah. Tangan kanannya masih menjinjing parang panjang. Darah menetes di ujungnya. Ia berjalan menuju lampu yanv tergantung di tengah rumah, mengambilnya, lalu membantingnya ke atas tikar pandan yang terbentang.
"Mampuihlah kalian sodo...!!" Teriaknya disertai api yang mulai menyala garang m3mbakar tikar pandan dan menjilat gorden serta apa pun di dekatnya.
Orang kampung terjaga demi mendengar teriakan Mak Tuo. Ketika mereka sampai, api sudah mulai menyala besar. Imah terduduk lunglai bersandar ke dinding, di tangannya parang panjang masih tergenggam. Tatap matanya kosong. Orang-orang berfas mengeluarkan segala yang ada di rumah. Menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Namun nyala api itu terlalu sulit untuk dijinakkan, sebentar saja ia telah melahap rumah oanggung berbahan kayu itu. Beruntung mereka masih sempat mengangkat jasad Pak Birin yang tak lagi berbentuk karena ditebas membabi buta.
Subuh itu terang benderang karena nyala api yang melahap habis rumah panggung tempat Imah dilahirkan dan dibesarkan. Kengerian yang tadi hanya merebak di dalam bilik, kini membumbung tinggi menebar lalu mendekap seisi kampung.
Imah diikat pada sebatang pohon rambutan jantan, dijerat bagai binatang. Tubuhnya lemah lunglai, kusut masai. Tatap matanya kosong. Ia bahkan tak menoleh ketika Mak dan warga kampung mengusung jenazah Pak Birin ke pemakaman. Sejak hari itu, lima belas tahun yang lalu Imah terpasung.
What's Your Reaction?



