SIJUNDAI:  Untaian Nestapa ( 4 )  

Foto Ilustrasi hanya sebagai pendukung cerita (ist)

SIJUNDAI:  Untaian Nestapa ( 4 )   

Oleh: Agus Sutawijaya

 Purnama bersinar terang dan indah malam ini. Langit cerah, gemintang bertaburan berkelap-kelip di angkasa raya. Dua ekor kelelawar terbang melintas mengejar kawanannya yang sedari tadi telah terbang ke Utara, menuju Rimbo Bombuong mencari buah-buahan hutan yang melimpah ruah di sana. Sesekali terdengar suara burung Pungguk memanggil kekasih impiannya, sang rembulan.

Aku masih berdiri di tangga rumah Mak Tuo, setelah mengantarkan tamu terakhir yang berkunjung malam ini mengucap selamat atas pernikahan kami. Rumah ini adalah rumah yang dibangun warga setelah rumah Mak Tuo terbakar saat Imah mengamuk dulu. Rumah panggung berbahan kayu Meranti, dengan tiang dari kayu Osak dan Kulim. Seperti rumah lainnya di kampung ini, rumah Mak Tuo dicat dengan semacam pernish yang terbuat dari campuran berbagai macam bahan, seperti minyak, tembakau, getah pinang dan lain-lain sehingga seluruh dinding nampak berwarna coklat kehitaman. Tak ada perabotan apa pun. Hanya tikar pandan yang baru saja aku gulung setelah tamu terakhir turun dari rumah.

Aku beranjak masuk ke dalam bilik Imah, yang kini jadi bilikku juga tentunya. Imah duduk di sisi tempat tidur besi berwarna biru. Kami biasa menyebutnya *Katie* atau di beberapa daerah melafalkannya dengan sebutan *Tiekatie*. Imah duduk selonjor menghadap ke jendela.

Ia masih tersenyum, entah pada siapa. Sejak pertama kali tersenyum setelah akad nikah tadi, Imah tak berhenti tersenyum. Ia tersenyum pada tamu yang menyalaminya. Ia tersenyum pada Mak Tuo, kepadaku. Ia juga tersenyum pada kucing hitam yang lewat di halaman, pada piring makan juga pada gorden pintu kamarnya. Aku yang semula bahagia melihat Imah tersenyum, kini mulai khawatir, jangan-jangan ....

"Nauzubillah," ucapku menghalau fikiran buruk yang muncul di kepalaku.

Aku duduk di sisi Imah, perlahan. Canggung rasanya. Tahukah kau, Kawan, perasaanku pada Imah itu seperti .... Aku sayang dia, tapi juga aku kasihan. Aku mencintainya tapi .... Ntahlah aku pun bingung dengan perasaanku sendiri. Imah menatapku, lalu tersenyum, kemudian menunduk menatap selimut, ia juga tersenyum dan sepertinya selimut pun tersenyum ke arahnya. Kutatap sepasang cicak yang sedang bercumbu tak tahu malu di dinding, sepertinya mereka juga tersenyum. Akhirnya aku pun ikut tersenyum.

Malam semakin larut, kami belum juga tidur, masih asyik bercerita. Lebih tepatnya aku yang bercerita, Imah diam saja sambil tersenyum. Lalu setelah kuapnya yang ketiga, kulihat wajah istriku itu telah terlelap dengan damai. Kukecup keningnya dan aku pun berusaha memejamkan mata di sisinya.

--oo--

Belum juga kena tidurku, tiba-tiba Imah menggenggam tanganku erat sekali. Tubuhnya menegang dan kini kedua tangannya mencengkram lenganku sangat kuat. Matanya melotot, mulutnya bergumam tak jelas.

"Imah ... Imah, sadarlah, istighfar." Aku merengkuh pundaknya. Tubuh Imah gemetar, ia berkeringat matanya melotot tajam memandang ke langit-langit.

"Astaghfirullah hal azzim." Aku kaget bukan kepalang. Ketika kuarahkan pandanganku ke arah langit-langit, tampak sosok hitam mengerikan merayap di langit-langit kamar, berjarak kurang dari tiga meter dari kami.

Tubuhnya hitam berbulu lebat, matanya merah menyala memandang bengis penuh benci ke arah kami. Kupeluk Imah erat-erat, tubuhnya dingin dan kaku, matanya terbelalak seakan hendak meloncat keluar.

Mahluk itu terus bergerak, merayap di langit-langit kamar. Kuku-kuku tangan dan kakinya hitam, panjang, dan sangat tajam. Giginya bertaring. Mulutnya menyeringai, liurnya menetes, dan ia lekat menatap kami.

"Allahumma baariklanaa fiima razaktanaa wakina azabannaar ...." Aku membaca doa-doa yang kuhafal. Tadinya aku hendak membacakan ayat kursi, namun saking takutnya malah doa makan yang kubaca.

Tiba-tiba, mahluk jahat itu menerkam kami berdua. Sekuat daya aku melawan. Aku bertekad melindungi Imah dari serangan mahluk laknat itu. Berkali-kali taringnya yang tajam berusaha menerkam kepala Imah yang kini terbujur kaku dalam pelukanku. Sekuat tenaga aku mencengkram leher berbulu mahluk biadab itu. Air liurnya yang bau dan gatal menetes ke lengan dan dadaku. Beberapa bagian tubuhku terluka dan berdarah terkena kuku-kuku mahluk penghuni jahannam ini.

Aku berteriak meminta tolong, namun suara teriakanku memantul dan menggema hanya di ruangan kamar ini. Sekuat apa pun aku berteriak tak ada seorang pun yang bisa mendengarkanku. Aku terengah, tenagaku hampir habis, namun aku bertekad untuk melindungi Imah semampuku. Dan dengan sisa tenagaku, kuhentakkan mahluk buruk rupa itu ke dinding dengan bacaan ayat kursi.

Mahluk itu menghilang, ia kabur lewat jendela terbang melayang entah ke mana. Nafasku terengah. Basah bajuku karena keringat. Kutatap Imah, ia masih terlelap bagai bayi.

"Astaghfirullah ...." Rupanya aku bermimpi. Kualihkan pandangan ke arah jendela, tempat dimana mahluk mengerikan itu pergi. Aneh. Jendela yang tadi kututup rapat dan kukunci kini terbuka, tiba-tiba bulu kudukku berdiri.

Jangan-jangan ....

Di luar, langit yang tadi begitu cerah kini berubah gelap gulita. Sayup-sayup kudengar lolong anjing hutan, pilu menyayat hati. Tiba-tiba malam seakan dibekap sunyi yang mencekam. Dua daun jendela kamar yang terbuka, tiba-tiba tertutup, dihempas angin. Aku kaget bukan kepalang. Buru-buru kukunci kembali jendela kamar dan kulepaskan gorden dari kaitnya.

Belum juga hilang ketakutanku, dari luar kudengar seseorang mengetuk pintu. Mulanya kuabaikan saja, karena aku pikir siapa pula tengah malam begini hendak bertamu, namun ketukan di pintu itu terus terdengar.

Dengan berat hati, kuberanikan juga untuk menghampiri pintu dan membukanya. Aneh. Tak ada siapa pun di luar. Bahkan kucing hitam yang biasanya tidur di tangga rumah itu pun tak ada. Aku kembali dicekam ketakutan luar biasa. Tak lama kulihat seberkas cahaya terang terbang di langit gelap menuju tepat ke arah rumah ini.

"TUJU!!!" Pekikku dan cahaya itu terpecah bagai kembang api di angkasa. Belum padam pecahan cahaya tadi, satu cahaya terang bagai komet kembali melesat.

"TUJU ... !!" Pekik ku kembali, dan cahaya itu pun meledak. Lalu datang lagi dan lagi bagai serangan roket dari Israel menuju Palestina. Aku tergagap, tak sempat lagi mengucap kata "TUJU" sebagai penangkal sihir itu, dan dengan satu ledakan, sebuah dahan pohon durian di samping rumah, pecah merengkah, terkena hantaman "Tuju".

Aku berlari kembali ke dalam rumah, dan mendengar rintih kesakitan dari bilik Mak Tuo. Bergegas kuhampiri bilik mertuaku itu dan menghambur aku ke dalamnya.

Di dalam bilik, kulihat Mak Tuo jatuh tertelungkup di lantai. Darah bersimbah dari mulutnya. Ia memegangi dadanya. Aku memeluknya.

"Laa illaaha ilallaah ...." dengan satu helaan nafas lembut Mak Tuo pergi tuk selamanya dalam pelukanku.

Kubaringkan ia di atas tempat tidur dan bergegas aku kembali ke bilik untuk membangunkan Imah. Ia berjalan menuju bilik Mak Tuo, lalu duduk di sebelah jasad ibunya, dan ia kembali tersenyum.

--oo--

Pagi itu jenazah Mak Tuo dimakamkan, tepat di sebelah makam Pak Birin. Warga kampung heboh. Menurut orang-orang yang menyaksikan kondisi Mak Tuo saat dimandikan, separuh tubuhnya menghitam, gosong bagai tersambar api yang sangat panas.

"Konai Tuju," bisik mereka tertahan..

Belum juga hilang kesedihan kami, lebih tepatnya kesedihanku saja, sebab kulihat Imah asyik tersenyum saja, tiba-tiba kabar buruk kembali menghampiriku dua hari setelah kepergian Mak Tuo.

Tek Rosida, yang selama ini tinggal menemani Mak, tergopoh-gopoh datang menemui ku.

"Amak, Zun, Amak," ucapnya terengah-engah.

Sontak aku berlari menghambur secepatnya menuju rumah Mak.

"Mak!" Jeritku demi melihat Mak kelonjotan di lantai seperti ayam kena bantai. Matanya melotot. Tangannya memegangi leher dan dadanya. Tubuhnya meronta-ronta. Wajahnya biru. Keringatnya deras mengalir. Kudekap Mak. Tubuhnya dingin. Disela nafas terakhirnya, masih sempat kubisikkan kalimat tauhid di telinganya, dan kulihat bibir Mak bergerak, meski tak bersuara, lalu terkulai lemah dalam pelukanku.

Raungan tangis Tek Rosida mengundang perhatian para tetangga. Berduyun-duyun warga datang ke rumah, penasaran, ingin tahu apa yang terjadi.

Sore itu menjelang maghrib Mak dikebumikan di sebelah makam Mak Tuo. Tadinya hendak dimakamkan di sisi makam ayah, namun tak ada lagi lahan tersisa di sana.

Hatiku hampa. Dua orang tuaku pergi dengan cara di luar nalarku. Dan semuanya menghembuskan nafas dalam pelukanku. Saat memandikan Mak tadi kulihat tanda hitam dari bahu sampai ke pinggang Mak, persis selendang.

"Kono Gayuong Condo, Yuong," ucap Niok Sohuk yang memandikan Mak, kepadaku.

Seisi kampung geger. Ketakutan melanda. Malam semakin sepi, karena tak ada warga yang berani keluar rumah lagi setelah shalat Isya. Warung-warung tutup lebih awal, bahkan ternak pun tidur lebih cepat dari biasanya. Hatiku sedih dan hancur ditinggal Mak dan Mak Tuo. Aku menatap Imah.

Ia tersenyum.

--oo--

 

Notes :

TUJU: Sejenis santet berbentuk bola api yang melesat bagai meteor menuju sasarannya. Kekuatan santet ini sangat luar biasa. Jika menghantam benda seperti pohon misalnya, tak jarang ia bisa membelah dan menghanguskan pohon tersebut seketika. Kelemahan santet ini adalah, ketika ada orang yang kebetulan melihatnya dan mengucap "Tuju!!" Maka bola api itu akan meledak di angkasa.

GAYUONG: Sejenis santet yang juga sangat mematikan, ia tak kasat mata seperti Tuju, namun bisa dikenali dari tanda yang ditinggalkannya pada tubuh korban, yaitu jejak hitam yang melingkar bagai lilitan selendang di tubuh korban.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow