SIJUNDAI: Senyum Terindah (3)

Foto hanya sebagai pendukung cerita (Ist)

SIJUNDAI: Senyum Terindah (3)

Oleh: Agus Sutawijaya

 

Enam bulan sudah berlalu sejak Imah dibebaskan dari pasungan, telah banyak kemajuan kesehatannya. Tubuhnya kini mulai berisi, nyaris ideal. Ia mulai bisa beraktifitas, meski terbatas. Lama dalam pasungan membuat kaki Imah menjadi lemah. Ia mudah lelah, tak mampu berjalan atau berdiri dalam waktu lama. Namun untuk urusan pribadi seperti mandi dan bersuci, Imah mampu melakukannya sendiri, meski perlahan.

Enam bulan pula lamanya aku di kampung. Ku tinggalkan pekerjaanku di Ibu Kota. Aku ingin selalu dekat dengan Imah. Selepas subuh, aku langsung mengayuh sepeda menuju kebun karet warisan ayahku. Hampir 10 kilo jaraknya dari rumah. Sepulang dari kebun, aku selalu ke tempat Imah, menemaninya makan, membimbingnya belajar berjalan. Aku bahagia melihat perkembangannya. Secara fisik, Imah tampak sehat dan normal. Tubuhnya kembali berisi. Rambutnya tergerai panjang dan rapi. Imah kembali secantik dulu, meski kini usianya tak muda lagi. Tiga puluh tahun sudah usia kami kini. Separuh hidupnya dihabiskan dalam pasungan.

Meski secara fisik Imah telah kembali berangsur pulih, namun psikologisnya masih terganggu. Ia masih sering termenung, kadang menangis tersedu-sedu. Ia jarang sekali berbicara. Berjam-jam aku mencoba mengajaknya bicara, Imah hanya menanggapi dengan tatapan kosong. Jadilah setiap hari aku bagai seniman sedang pentas monolog di sisinya. Sesekali ia memanggilku perlahan. Menatapku lalu menangis. Entah apa yang ingin diucapkannya. Tak pernah sekalipun ia tersenyum. Sungguh aku rindu senyum manisnya. Senyum terindah. Kurasa semua orang kampung pun rindu akan senyumnya. Aih ... andai kau tahu, Kawan, senyum Imah bagai purnama. Indah sekali.

--ooo---

"Zun ...." Mak memanggilku lirih. Kulihat matanya sedikit menerawang, mungkin mencari kalimat yang pas untuk diucapkan kepadaku, sesaat setelah kami makan malam.

"Ya, Mak." jawabku.

"Tadi Mak dipanggil Tuok Lotik ke rumah." Mak menatapku.

"Orang-orang kampung mulai menggunjingkanmu,  Nak." Mak berhenti sejenak, meneguk sisa air putih di gelasnya, tampak ia menunggu reaksiku.

"Iya, Mak, aku pun mendengar, Mak Tuo telah menyampaikan pula padaku," jawabku perlahan.

"Imah gadis cantik, Nak, dan kau bujang. Sedari kecil kalian dekat bahkan telah kami jodohkan. Meski kini Imah sakit, namun orang kampung berpandangan lain. Mereka takut terjadi fitnah antara kalian, yang akan menodai kampung kita ini, Nak." Suara Mak tertahan. Aku faham maksud Mak.

"Mak, bagaimana kalau aku menikahi Imah saja, agar tak ada fitnah di antara kami, dan aku bisa lebih leluasa merawat Imah?" tanyaku ragu.

Aku tahu ini masalah besar, menyangkut masa depanku.

"Apakah kau yakin, Zun?" Tanya Mak menyelidiki.

"Insyaallah, Mak," jawabku.

"Tapi kau tahu sendiri kondisi Imah, Nak. Jangankan untuk merawat dirimu dan keluarga, merawat dirinya saja ia belum mampu." Tekan Mak lagi.

"Insyaallah Imah akan segera pulih, Mak, aku yakin." Aku meyakinkan Mak.

"Apakah kau sanggup, Zun? Imah tak mampu melayanimu seperti seorang istri seutuhnya?" Tampak Mak masih belum yakin.

"Mak ... doakan aku, insyaallah aku mampu," jawabku sambil mencium punggung tangan Mak.

--ooo--

Senja beranjak, ketika malam datang menjelang. Matahari melambaikan tangan beranjak pulang ke pelukan malam, menemui rembulan yang menyambutnya penuh kasih sayang.

Jemaah shalat Maghrib kali ini lebih banyak dari biasanya. Masjid kami yang berbentuk panggung nyaris penuh terisi. Kipas angin yang menggantung di langit-langit kelelahan berputar menggerakkan angin agar udara tetap segar. Cahaya lampu neon panjang berpijar beradu terang dengan beberapa lampu pijar yang terpasang di dalam masjid. Sebuah lampu neon di mihrab nampak kesulitan untuk menyala. Ia berkedip-kedip, sesekali mengeluarkan suara mendengung dari balastnya yang kekurangan daya. Onga Ahyar berulang kali naik ke atas bangku untuk memutar stater atau sekering lampu neon itu, ia menyala sebentar lalu kempali padam. Pada percobaan yang ke tiga belas, akhirnya lampu itu berhasil menyala.

Aku duduk di hadapan pak KUA. Di sebelahnya duduk pula Tuok Lotik dan Tuok Somin bertindak sebagai saksi. Berdesakan menyaksikan jemaah duduk hendak menyaksikan akad nikahku dengan Imah.

Nun di sudut sebelah kanan dekat jendela, Imah duduk diapit oleh Mak dan Mak Tuo. Ia mengenakan pakaian Melayu berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga kecil berwarna senada. Kerudung dari kain batik menutupi kepalanya. Ia tampak cantik sekali malam ini. Yanti, sahabat kami yang buka usaha rias pengantin telah mendandani wajahnya. Ringan saja, hanya polesan bedak tipin dan gincu berwarna merah muda. Sedikit blush on dan celak menambah kecantikannya malam ini. Aku mendengar beberapa orang berbisik memuji kecantikannya.

Ketika pak KUA menjabat tanganku saat akad nikah, tiba-tiba rasanya aku terserang demam. Tubuhku dingin. Aku gemetar. Dua kali aku salah mengucap kabul, hingga aku disuruh minum dan istirahat sejenak.

Jujur, aku gugup. Menikahi Imah adalah salah satu impian masa kecilku. Tiga puluh tahun umurku, tak seorang wanita pun pernah mengisi hatiku. Beberapa kali pernah ku coba, namun tak pernah aku bisa menghapus Imah dari ingatanku. Kini semua itu akan segera terwujud. Aku akan menikahi Imah. Aku akan mengambil tanggung jawab dunia akhirat atas dirinya. Aku gugup.

"Aku terima nikahnya Fatimah Az-Zahra binti Shabirin dengan mas kawin sebentuk cincin emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai ...."

"SAH!!!" Ucap saksi diiring ucapan Alhamdulillah semua orang yang hadir malam itu.

Aku tertunduk, air mataku mengalir tak mampu kubendung. Kulihat Mak dan Mak Tuo pun menangis memeluk Imah. Imah diam.

Usai membaca sighat takluk dan menandatangani buku nikah dan dokumen lain, Imah didudukkan di hadapanku. Kini saatnya aku menyerahkan mas kawin buatnya. Setelah membaca doa barokah, Imah menyalami dan mencium punggung tanganku. Air matanya menetes. Aku mengusapnya dengan ujung jariku. Ia menatapku dalam. Kali ini pandangannya tak lagi kosong. Lalu untuk pertama kalinya sejak lima belas tahun lalu Imah tersenyum. Senyum terindah yang pernah ada. Hadirin berdecak kagum.

"Masyaallah ...." Ucap mereka lirih.

Di luar awan menepi memberi ruang kepada purnama yang hendak melihat suatu yang lebih indah darinya. Senyum Fatimah.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow