SIJUNDAI: Dirundung Pasung (1)

Foto hanya sebagai pendukung cerita (Ist)

SIJUNDAI: Dirundung Pasung (1)

Oleh: Agus Sutawijaya

"Imah, makanlah..." Ucapku seraya menyodorkan sebungkus gorengan yang baru saja ku beli di kedai Tek Gadi.

Dari sela dinding papan menjulur tangan dengan kuku panjang dan hitam, merebut bungkusan yang baru saja ku sodorkan. Tanpa bicara ia melahap sepuluh potong gorengan sampai habis. Ku sodorkan juga sebotol air mineral yang segera direnggut dan ditenggak tandas.

Aku memandang hiba pada sosok di balik dinding papan itu. Kurus kering, nyaris tak tersisa sedikitpun daging di tubuhnya.  Hanya kulit pembalut tulang semata. Rambutnya panjang bergulung-gulung. Pakaiannya compang-camping. Kuku tangan dan kakinya panjang dan hitam. Matanya cekung dengan tatapan kosong. Ia duduk selonjor pada lantai papan kasar tanpa alas. Pergelangan kakinya dijepit dengan kayu yang dikunci menggunakan gembok besar yang biasa dipakai untuk mengunci gudang. Salah satu ujung kayu itu terhubung ke tiang pondok dengan sebuah rantai.

Pondok tempatnya dikurung adalah Sebuah pondok kayu yang tampak dibuat tergesa-gesa. Dindingnya dari papan seberan, papan sisa penggergajian yang dipasang jarang. Dipakukan pada tiang bulat Kayu Osak. Lantainya juga papan kasar yang juga dipasang jarang-jarang. Atapnya dari daun Rumbia yang telah lapuk dimakan usia, compang camping, bocor di sana sini. Kalau kalian pernah menonton film kisah perang Vietnam, pondok ini tak lebih baik dari penjara tawanan perang yang digambarkan dalam film-film itu.

"Kapan kau balek Buyung..?" Suara Mak Tuo mengagetkan ku.

"Kemaren Mak Tuo" jawabku sambil menyalami dan mencium punggung tangannya. Lama ia menatapku. Matanya berkaca-kaca, seakan ingin bercerita betapa derita itu terlalu berat untuk ditanggungnya.

-- 00 --

Nama perempuan dalam pasungan itu Fatimah Az-Zahra. Ia masih sepupuku juga. Di kampung kami hubungan kekerabatan antara kami begitu dekat dan cenderung berbelit-belit. Orang-orang yang tak merantau biasanya akan menikahi sepupunya. Pulang ka Bako istilahnya. Selain sekampung dan saudara sepupu, aku dan Imah, panggilannya, kami sangat dekat. Bahkan sedari kecil kami sudah saling dijodohkan oleh kedua orang tua kami.

Aku dan Imah lahir di hari yang sama, dan mungkin di waktu yang hampir bersamaan. Menurut cerita Mak dan orang kampung lain, saat kami dilahirkan cuaca sedang hujan lebat. Petir menyambar berulang kali. Mak Beram, dukun beranak kampung kami pontang-panting, basah kuyup menerobos derasnya hujan untuk menyelamatkan kelahiran kami. Ayah dan Pak Biarin datang bersamaan ke kediaman Mak Beram. Mak kami sama-sama sudah mau lahiran. Jadilah malam itu Mak Beram memutuskan menyambut kelahiran Imah terlebih dahulu setelah itu baru terpontal-pontal naik sepeda Samki detangah malam di bawah guyuran hujan menuju rumah kami. Sampai di rumah didapatinya aku sudah terlahir dengan sukses dengan bantuan ayah.

--00--

Karena seumuran, kami tumbuh bersama. Saat Mak kami ke ladang, kami berbagi buayan yang sama, yang digantung di "Suduong" (gubuk kebun) sembari Mak dan perempuan lain warga kampung "Batobo" bergotong royong menggarap sawah.

Imah tumbuh menjadi seorang gadis muda yang cantik. Kulitnya kuning Langsat. Rambutnya tebal, matanya bening dengan bulu mata lentik dan alis yang seperti diukir rapi. Di sekolah prestasinya selalu mengungguli aku. Ia sangat pintar. Sekali saja Udo Nopi, guru kami menjelaskan maka ia langsung bisa memahami. Sering kali ia didaulat untuk menjelaskan di depan kelas  pelajaran yang kami tidak mengerti.

"Jun, lulus SMP, aku mau masuk SPG" ucapnya padaku saat kami berjalan pulang dari sekolah. Berulang kali ia bercerita ingin menjadi guru. Ia ingin mengabdi di daerah terpencil. Tak terbayang jika Gadis manis dan pintar bunga desa itu kini duduk terpasung pada sebuah pondok reot dan bau di belakang rumah, persis di sebelah kandang sapi.

Aku ingat kisah awalnya dulu. Saat kami kelas dua SMP, Imah dan keluarganya pergi ke Cerenti menghadiri acara pernikahan kemenakan ayahnya. Menurut cerita Mak Tuo Sima, makanya Imah, saat di Cerenti banyak orang yang kagum akan kecantikan Imah. Bahkan ada seorang lelaki yang terang-terangan menyampaikan kepada Pak Birin ingin menikahi Imah.

Tentu saja Imah tak setuju. Ia menangis, tak mau menerima lelaki beristri itu. Ia masih terlalu kecil dan punya cita-cita besar. Pak Birin pun memahami itu. Secara halus ia menyampaikan penolakannya dan menjelaskan bahwa Imah masih terlalu kecil untuk diperistri.

Sepulang dari Cerenti itulah Imah perlahan mulai berubah. Ia yang dulu ceria, sehat dan enerjik, kini lebih sering bermenung. Hingga pada suatu hari awal petaka itu datang.

Siang itu kami sedang serius mengerjakan soal ulangan matematika. Tiba-tiba, Imah berteriak seraya menghantam meja. Kami semua terkejut. Sebagian pelajar perempuan berhamburan sambil menjerit histeris. Imah seperti orang kerasukan. Matanya merah menatap tajam namun kosong. Tangan dan kakinya kaku. Mulutnya meracau, aneh. Terkadang suaranya seperti suara kakek-kakek.  Lalu berubah menjadi suara perempuan, kemudian menangis, menjerit.

Satu sekolah menjadi heboh. Semua berebut ingin melihat langsung apa yang terjadi di dalam kelas. Beberapa orang guru tampak berusaha memegangi Imah. Namun entah tenaga dari mana enam orang guru bahkan tak sanggup menenangkan Imah. Kepanikan semakin meningkat ketika tiba-tiba Imah merayap ke arah dinding. Mulutnya terus meracau bahasanya kadang tak kami pahami. Perlahan Imah berdiri menghadap dinding, rapat. Ia mulai merayap memanjat dinding sekolah....

"Sijundai ......" Pak Kaab Kepala Sekolah kami berucap.

Sesaat semua orang terdiam, hening tiba-tiba saja datang memeluk ruangan. Imah merayap memanjat dinding sekolah yang terbuat dari papan. Ia bahkan merayap hingga menyentuh plafond, sebelum beberapa orang guru naik ke atas meja dan menurunkannya. Awalnya Imah berontak, lalu menangis histeris ketika Pak Karim, guru agama kami membacakan ayat Kursi. Imah berontak lalu terkulai lemah.

--00--

Bertahun Imah menderita, setiap kali Matahari beranjak naik atau turun, kejadian itu selalu berulang. Tak terhitung banyaknya Ustadz, dan orang pintar datang mencoba mengobati Imah, namun tak satu pun yang berhasil. Semakin lama sepupu ku itu semakin parah.

Awalnya ia hanya kambuh siang dan senja saja, selain waktu itu Imah masih bisa diajak komunikasi seperti biasa. Namun lama kelamaan kondisinya semakin parah saja. Imah tak mengenali siapapun. Tatapannya kosong. Kadang ia tertawa, namun tak jarang ia menangis pilu. Pernah pula ia dibawa berobat dan di rawat di RSJ Panam, namun tak sedikitpun ada perbaikan. Kian hari kondisinya kian memburuk. Ia bahkan tak jarang mengamuk menyakiti dirinya. Pernah pula Imah memukul Mak Tuo Sima dengan alu hingga keningnya berdarah.

 Puncaknya adalah ketika suatu malam Imah tiba-tiba mengamuk. Ia membanting lampu minyak yang menempel di dinding, hingga terang benderang lah kampung kami malam itu karena rumah Pak Birin ludes terbakar. Imah dam Mak Tuo Sima berhasil diselamatkan, namun Pak Birin tidak. Selain membanting lampu minyak, malam itu di luar kekuasaannya Imah telah pula membacok Pak Birin berulang kali dengan sebilah parang panjang.

Sejak itulah Imah akhirnya dipasung. Masyarakat bergotong royong membangun kembali rumah Mak Tuo Sima dan membuatkan sebuah pondok kecil untuk mengurung Imah, di belakang rumah, persis di sebelah kandang sapi. Tangan dan kakinya di Pasung dengan pasungan yang terbuat dari pohon Rambutan Jantan.

Kini setelah 15 tahun terpasung, tangannya tak lagi dirantai, hanya kakinya yang masih dipasangi pasungan. Imah sepupuku yang cantik jelita kini berubah menjadi mahluk mengerikan. Kurus kering, bau, seperti zombie dalam film-film. Lama kutatap matanya yang kosong, berharap masih ada sedikit kenangan di sana, dan tiba-tiba aku menangkap tatap mata itu, samar-samar, lalu lekat menghujam ke arahku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia akhirnya menatapku.

"Zun...." Ucapnya lirih...

"Iya Imah, ini aku Zun...." Kerongkonganku tercekat. Ada gumpalan rasa yang tiba-tiba menggunung di rongga dadaku. Air mataku berlomba menyeruak di kelopak mata.

"Zun......" Ucapnya lagi, ada butir bening mengalir dari sudut matanya yang cekung. Terdengar pula Isak tertahan Mak Tuo Sima yang sedari tadi berdiri di sisiku. Kami menghambur ke dalam pondok. Imah menggenggam tanganku erat sekali. Sementara dengan penuh kasih Mak Tuo Sima membelai putri semata wayangnya sambil mengucap syukur Alhamdulillah. Lima belas tahun sudah Imah terpasung, dan tak pernah satu katapun keluar dari mulutnya. Tak seorang pun dikenalinya. Hari ini ia mengenaliku, manyebut namaku. Nama lelakinya, cinta pertamanya..

(Ada sambungannya)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow