SIJUNDAI: Janji Matahari ( 2 )

Foto Ilustrasi pendukung cerita (Ist)

SIJUNDAI: Janji Matahari ( 2 )

Oleh: Agus Sutawijaya

Langit cerah. Matahari tersenyum bahagia menyaksikan anak-anaknya awan dan angin bersenda gurau ceria. Sesekali awan memeluk Matahari dengan manja, menyisakan keteduhan pada sebagian belahan dunia. Angin pun tak kalah jenaka, perlahan ia menggoda awan dan mendorongnya dengan lembut.

Dari jauh nampak rombongan burung Rangkong Raja terbang berkelompok menuju pohonan tertinggi nun jauh di rimba raya. Kepak sayapnya terdengar hingga ke sudut-sudut kampung. Membuat siapa pun yang mendengarnya akan serta-merta mendongak ke atas untuk sekedar mengagumi kelompok burung misteri yang gagah perkasa itu.

Beberapa orang kampung dan tokoh masyarakat berkumpul siang itu di rumah Mak Tuo Sima. Nampak Tuok Woli Somin, Kepala Desa Kami, ada Tuok Lotik, imam kami dan ada pula Cu Yusak, mantri kesehatan kampung kami. Mak Tuo Sima menyampaikan kabar tentang Imah yang kini mulai sedikit sadar, ia telah mengenalinya juga aku, bahkan Imah untuk pertama kalinya sejak 15 tahun lalu menyebut separah kata.

Akhirnya disepakatilah untuk melepas pasungan Imah. Kekhawatiran warga akan Imah yang bisa tiba-tiba mengamuk dan mencelakai dirinya atau orang lain perlahan memudar.

"Imah telah cukup menanggung derita, dan melihat kondisinya rasanya tak mungkin Imah sanggup mengamuk lagi" Cu Yusak coba meyakinkan warga.

"Semoga ini awal yang baik buat Imah, kita berdoa semoga Allah memberikan kesembuhan kepada ananda Imah" tambah Tuok Lotik.

"Jika seandainya Imah kembali kambuh dan mengamuk, kita akan fikirkan tindakan selanjutnya, saat ini marilah kita bebaskan ananda Imah" Tuok Somin menambahkan. Suaranya yang berat bersaing dengan batuknya yang bertalu-talu.

Jadilah siang itu, setelah belasan tahun terpasung Imah dibebaskan. Suasana semakin ramai. Orang-orang kampung berdesakan menyaksikan kejadian itu. Anak-anak yang selama ini selalu ditakut-takuti oleh ibunya jika nakal akan di tangkap Imah memeluk erat ibunya. Rasa takutnya dikalahkan oleh rasa penasaran sang ibu hendak melihat langsung kondisi Imah. Maklumlah, belasan tahun Imah terpasung, sebagian warga bahkan telah melupakannya. Hanya ada beberapa warga yang bersimpati yang sesekali datang untuk mengulurkan makanan buat Imah. Itupun dilakukan terburu-buru, sebab pondok Imah ini begitu bau.

Demi melihat warga berkerumun, Imahseakan ketakutan. Ia yang sedari tadi memegang tanganku, kini menggenggam erat sekali. Susah payah ia berusaha bergeser mendekat padaku, aku tahu ia meminta perlindunganku. Aku bergeser merapat ke arahnya. Ku rengkuh pundak ringkihnya, kusandarkan tubuh kurusnya ke bahuku.

"Tak apa Imah, mereka akan membebaskanmu" bisikku lembut di telinganya. Imah menatapku sayu, ada genangan kristal bening menggenang di matanya.

Setalah susah payah karena kunci gemboknya macet, akhirnya pasungan yang belasan tahun membelenggu kehidupan Imah berhasil dibuka. Mak Tuo meneteskan air mata. Imah berusaha mengelus kakinya. Tampak ia mencoba menggerakkan kedua kaki kurusnya itu. Namun sekuat apa ia berusaha, yang mampu digerakkan ya hanyalah jempol kakinya saja. Belasan tahun tak digerakkan, otot-otot kaki itu mungkin butuh waktu untuk dilatih dan dinormalkan kembali.

Aku bergeser menjauh ketika kain batik dikembangkan untuk menutupi tubuh Imah. Tek Ani, bidan Desa kami bersama Mak Tuo dan beberapa ibu-ibu bersama memandikan Imah. Sementara beberapa pemuda nampak semangat menimba air di sumur dan mengangkat ke pondok.

Rambut Imah yang panjang bergulung-gulung dan gimbal akhirnya dipotong pendek. Tak cukup 4 sachet sampo yang digunakan untuk mengkeramasi kepala yang bertahun-tahun tak tersentuh air itu. Dengan penuh kasih sayang, perlahan Mak Tuo menyikat gigi putri semata wayangnya. Berharap sekali ia bisa melihat anak gadisnya itu bisa kembali sedia kala. Ia yakin doa-doanya akan segera dikabulkan Allah SWT.

Belasan tahun, meski ia tak sanggup merawat Imah secara baik, namun tak sedikitpun Mak Tuo pernah melupakan Imah dalam untaian doa-doanya. Ia yakin akan janji Allah bahwa Allah akan mengabulkan doa setiap hamba. Ia yakin Imah akan kembali sehat seperti sedia kala sebagaimana ia yakin akan janji Matahari yang akan selalu terbit setiap pagi.

Aku masih berdiri di antara kerumunan warga. Menanti Imah selesai dimandikan. Hatiku tak henti berdoa, semoga Imah, gadisku bisa kembali.

 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow